Senin, 26 Juni 2017

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN MAGETAN

Pengirim: Kantor Arsip dan Perpustakaan Daerah, Tanggal 09 May 2016
Kategori: Berita

Hasil unduhan dari Blog. Magetan Kab. Senin,9 Mei 2016.

Minggu, 21 Agustus 2011

SEJARAH BERDIRINYA KABUPATEN MAGETAN

Dalam kehidupan sosial budaya, ternyata melalui tulisannya banyak para ahli sejarah menyebut-nyebut Magetan. Demikian pula dalam kenyataannya, di Magetan sendiri tidak sedikit dijumpai peninggalan-peninggalan pada jaman dahulu kala, misalnya di Kelurahan Kepolorejo Kecamatan Magetan terdapat sebuah makam yang membujur ke arah utara selatan. Batu nisan sebelah berukuran lebar 34 cm, tebal 26 cm, tinggi 66 cm, bahannya terbuat dari batu andezit yang bentuk tulisannya diperkirakan dari abad 9.
Di Dukuh Sadon Desa Cepoko Kecamatan Magetan terdapat kalamakara dengan reruntuhan batu lainnya, yang bahannya juga dari batu andezit. Berdasarkan hal tersebut, terdapat kemungkinan dipersiapkannya pendirian suatu bangunan candi. Pada reruntuhan batu yang terletak dibawah makara terdapat tulisan yang tidak terbaca karena rusak. Dari bentuk tulisannya dapat diperkirakan bahwa peninggalan tersebut dari jaman Airlangga (Kediri). Reruntuhan tersebut oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Dadung Awuk.
Di tempat lain terdapat pula
peninggalan-peninggalan jaman dahulu seperti di Puncak Lawu wilayah Kabupaten Magetan yaitu peninggalan berbentuk Pawon Sewu (Candi Pawon)/Pundek Berundak
peninggalan tersebut sebagai hal budaya pada jaman Majapahit. Demikian juga di lereng Gunung Lawu sebelah Barat terdapat peninggalan Candi Sukuh dan Candi Ceto.
Awalnya peninggalan-peninggalan tersebut sesuai dengan perkembangan akhir Majapahit, dimana pada waktu itu banyak rakyat dan sebagian kalangan kraton yang meninggalkan pusat kerajaan; pergi ke gunung-gunung dalam usaha ingin mempertahankan kebudayaan dan agama
Hindu termasuk Gunung Lawu Kabupaten Magetan.

PROSES BERDIRINYA KABUPATEN MAGETAN

Telah kita ketahui bersama lewat buku-buku sejarah ataupun peninggalan-peninggalan sejarah itu sendiri, bahwa daerah-daerah di Indonesia pada umumnya dan termasuk pulau-pulau Jawa, pada jaman dahulu dikuasai oleh kerajaan-kerajaan besar maupun kecil. Hal semacam ini tidak terkecuali mengenai wilayah timur Gunung Lawu, yang sekarang ini dikenal dengan nama Kabupaten Magetan.
Pada buku sejarah Kabupaten Magetan telah disebutkan, bahwa kita tidak mungkin mengungkapkan sejarah Magetan tanpa mengungkapkan masalah kerajaan terdekat yang berkuasa serta masalah-maalah VOC atau Kompeni Belanda. Agar pembicaraan tentang berdirinya Kabupaten Magetan ini banyak dikandung pengertian yang bisa dipertanggungjawabkan, maka disini dikemukakan peristiwa-peristiwa penting yang dapat mencapai sasaran dengan tepat.

Peristiwa-peristiwa penting tersebut diantaranya :
Wafatnya Sultan Agung Hanyokrokusumo pada tahun 1645 merupakan tonggak sejarah mulai surutnya kejayaan Kerajaan Mataram. Beliau sangat gigih melawan VOC, sedangkan penggantinya ialah Sultan Amangkurat I yang menduduki tahta Kerajaan Mataram pada tahun 1646-1677 sikapnya lemah terhadap VOC atau Kompeni Belanda. Pada tahun 1646 Sultan Amangkurat I mengadakan perjanjian dengan VOC, sehingga pengaruh VOC dapat memperkuat diri karena bebas dari serangan Mataram,bahkan pengaruh VOC dapat leluasa masuk ke Mataram. Kerajaan Mataram makin menjadi lemah, pelayaran perdagangan makin dibatasi, antara lain tidak boleh berdagang ke Pulau Banda, Ambon dan Ternate. Peristiwa diatas menyebabkan tumbuhnya tanggapan yang negatif terhadap Sultan Amangkurat I di kalangan keraton, lebih-lebih pihak oposisi, termasuk putranya sendiri yaitu Adipati anom yang kelak bergelar Amangkurat II. Kejadian-kejadian di pusat Pemerintahan Mataram selalu diikuti dengan seksama oleh Daerah Mancanegara, sehingga Pangeran Giri yang sangat berpengaruh di daerah pesisir utara Pulau jawa mulai bersiap-siap melepaskan diri dari kekuasaan Mataram.
Pada masa itu seorang pangeran dari madura yang bernama Trunojoyo sangat kecewa terhadap pamannya yang bernama Pangeran Cakraningrat II karena beliau terlalu mengabaikan Madura dan hanya bersenang-senang saja di pusat Pemerintahan Mataram.
Trunojoyo melancarkan pemberontakan kepada Mataram pada tahun 1647. Pemberontakan itu didukung oleh orang-orang dari Makasar.Dalam suasana seperti itu kerabat Keraton Mataram yang bernama Basah Bibit atau Basah Gondo Kusumo dan Patih Mataram yang bernama Patih Nrang Kusumo dituduh bersekutu dengan para ulama yang beroposisi dengan menentang kebijaksanaan Sultan Amangkurat I. Atas tuduhan ini Basah Gondokusumo diasingkan ke Gedong Kuning Semarang selama 40 hari, di tempat kediaman beliau yang bernama Basah Suryaningrat. Patih Nrang Kusumo meletakkan jabatan dan kemudian pergi bertapa ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Beliau diganti oleh adiknya yang bernama Pangeran Nrang Boyo II. Keduanya ini putra Patih Nrang Boyo (Kanjeng Gusti Susuhunan Giri IV Mataram). Di dalam pengasingan ini Basah Gondokusumo mendapat nasehat dari kakeknya yaitu Basah Suryaningrat, dan kemudian beliau berdua menyingkir ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Beliau berdua memilih tempat ini karena menerima berita bahwa di sebelah timur Gunung Lawu sedang diadakan babad hutan yang diadakan oleh seorang bernama Ki Buyut Suro, yang kemudian bergelar Ki Ageng Getas. Pelaksanaan babad hutan ini atas dasar perintah Ki Ageng Mageti sebagai cikal bakal daerah tersebut. Untuk mendapatkan sebidang tanah sebagai tempat bermukim di sebelah timur Gunung Lawu itu, Basah Suryaningrat dan Basah Gondokusumo menemui Ki Ageng Mageti di tempat kediamannya yaitu di Dukuh Gandong Kidul (Gandong Selatan), tempatnya di sekitar Aloon-aloon Kota Magetan dengan perantara Ki Ageng Getas.

Hasil dari pertemuan ini, Basah Suryaningrat mendapat sebidang tanah di sebelah utara Sungai Gandong, tepatnya di Kelurahan Tambran Kecamatan Kota Magetan sekarang. Peristiwa itu terjadi setelah melalui perdebatan yang sengit antara Ki Ageng Mageti dengan Basah Suryaningrat. Lewat perdebatan ini Ki Ageng Mageti mengetahui, bahwa Basah Suryaningrat bukan saja kerabat keraton Mataram, melainkan sesepuh Mataram yang memerlukan pengayoman. Karena itulah akhirnya Ki Ageng Mageti mempersembahkan seluruh tanah miliknya sebagai bukti kesetiaannya kepada Mataram.

Setelah Basah Suryaningrat menerima tanah persembahan Ki Ageng Mageti itu sekaligus beliau mewisuda cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru dengan gelar YOSONEGORO yang kemudian dikenal sebagai Bupati YOSONEGORO. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 12 Oktober 1675, dengan condro sengkolo “ MANUNGGALING ROSO SUKO HAMBANGUN” Basah Suryaningrat dan Yosonegoro (Basah Gondokusumo) merasa sangat besar hatinya, karena disamping telah mendapatkan persembahan tanah yang berwujud wilayah yang cukup luas dan strategis, juga mendapatkan seorang sahabat yang dapat diandalkan kesetiaannya, yaitu Ki Ageng Mageti. Itulah sebabnya tanah baru itu diberi nama “MAGETAN’

Daftar Bupati yang pernah memimpin Magetan :
1. Raden Tumenggung Yosonegoro(1675 - 1703)
2. Raden Ronggo Galih Tirtokusumo (1703 - 1709)
3. Raden Mangunrono(1709 - 1730)
4. Raden Tumenggung Citrodiwirjo (1730 - 1743)
5. Raden Arja Sumaningrat(1743 - 1755)
6. Kanjeng Kyai Adipati Poerwadiningrat (1755 - 1790)
7. Raden Tumenggung Sosrodipuro(1790 - 1825)
8. Raden Tumenggung Sosrowinoto (1825 - 1837)
9. Raden Mas Arja Kartonagoro(1837 - 1852)
10. Raden Mas Arja Hadipati Surohadiningrat III (1852 - 1887)
11. Raden M.T. Adiwinoto(1887 - 1912), R.M.T. Kertonegoro (1889)
12. Raden M.T. Surohadinegoro (1912 - 1938), R.A. Arjohadiwinoto (1919)
13. Raden Mas Tumenggung Soerjo(1938 - 1943)
14. Raden Mas Arja Tjokrodiprojo (1943 - 1945)
15. Dokter Sajidiman(1945 - 1946)
16. Sudibjo (1946 - 1949)
17. Raden Kodrat Samadikoen(1949 - 1950)
18. Mas Soehardjo (1950)
19. Mas Siraturahmi(1950 - 1952)
20. M. Machmud Notonindito (1952 - 1960)
21. Soebandi Sastrosoetomo (1960 - 1965)
22. Raden Mochamad Dirjowinoto(1965 - 1968)
23. Boediman (1968 - 1973)
24. Djajadi(1973 - 1978)
25. Drs. Bambang Koesbandono (1978 - 1983)
26. Drg. H.M. Sihabudin (1983 - 1988)
27. Drs. Soedharmono (1988 - 1998)
28. Soenarto
29. Saleh Mulyono
30. Sumantri

Diposkan oleh Raden Mas Aji Nanda Perdana Kusuma Atmaja haryo diningrat di 15.26

Minggu, 21 Agustus 2011

LAMBANG KABUPATEN MAGETAN DAN ARTINYA

Logo Kabupaten Magetan

BENTUK GAMBAR DAN LAMBANG

Bentuk keseluruhan adalah lembaran kulit ternak yang merupakan ciri khas dan salah satu produk andalan Daerah Kabupaten Magetan.

ISI GAMBAR/LAMBANG

1.  Bintang

Melambangkan bahwa penduduk Kabupaten Magetan meyakini dan berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa.  Selain itu, bintang terletak di angkasa dan bersegi lima menggambarkan cita-cita yang tinggi dengan berlandaskan Pancasila

2.  Keris

Keris merupakan benda pusaka dan melambangkan suatu kewibawaan. Keris dalam logo memiliki lima luk (lekukan pada bilah keris) yang merupakan jumlah sila dalam Pancasila. Hal ini terkandung maksud bahwa kewibawaan akan dimiliki apabila selalu mengamalkan Pancasila

3.  Gunung dan Asap

Gunung Lawu sebagai gunung vulkanis merupakan gunung yang tertinggi dan terbesar dalam daerah Kabupaten Magetan serta menggambarkan kemegahan dan kesuburan tanah di wilayah Kabupaten Magetan. 

4.  Telaga Pasir

Telaga Pasir atau terkenal dengan sebutan lain Telaga Sarangan merupakan objek pariwisata andalan dan menjadi kebanggaan daerah serta sumber kemakmuran masyarakat.

5.  Padi dan Kapas

Melambangkan cita-cita kemakmuran bagi seluruh masyarakat Kabupaten Magetan.

6.  Roda Bergerigi (hanya sebagian yang terlihat)

Menggambarkan kegiatan dan semangat kerja seluruh lapisan masyarakat  untuk mencapai cita-cita.

 

PERPADUAN  ISI GAMBAR / LAMBANG

Perpaduan antara sinar, bintang dan keris, kapas dan padi mengandung arti bahwa rakyat daerah Kabupaten Magetan adalah pendukung Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini dinyatakan dengan :

Sinar yang memancar dari keris dan bintang sebanyak 17 berkas, menyatakan tanggalnya yaitu 17. Bulan Agustus digambarkan dengan kapas sebanyak 8 buah. Sedangkan butir padi yang berisi 45 buah biji padi merupakan angka tahun kemerdekaan kita bangsa Indonesia yaitu tahun 1945.

MAKNA WARNA 

1.  Hijau dan Kuning

Hijau dan Kuning adalah warna pertanian. Hijau tua adalah warna dari tanaman-tanaman yang subur, sedangkan kuning adalah warna dari padi-padi yang telah tua.

2.  Kuning Emas

Warna kuning emas melambangkan keseluruhan kepribadian bangsa Indonesia

MAKNA LAMBANG KESELURUHAN

Dengan memperhatikan uraian/penjelasan tersebut diatas, dapat dirumuskan mengenai jiwa serta makna lambang bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Magetan beserta seluruh lapisan masyarakat selalu siap mempertahankan dan mengisi kemerdekaan guna mencapai tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan berpedoman pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

 

PRESTASI YANG DIPEROLEH KABUPATEN MAGETAN

Inilah sepuluh Penghargaan Nasional yang disabet Pemkab Magetan:

1. Adipura ke 8
2. Juara 1 lomba PHBS (Perilaku hidup bersih dan sehat)
3. KB Lestari 1 tahun
4. Bakti koperasi dan UKM
5. Wahana tata nugraha ke-4 kali
6. Sanitasi total berbasis masyarakat
7. Akselerasi penerapan e-Procurement
8. Adiwiyata
9. Juara 1 kejurnas gulat yunior
10. Juara 1 lomba gugus PAUD berpretasi

 

 

Website Menu

Kontak Detail

Jl. Basuki Rahmad Barat No. 1 Magetan. No. Telp. 0351 892965, 8198138

Email : arpus@magetankab.go.id

Peta Magetan